Kami berikan layanan terbaik untuk setiap event anda, jadikan momen terindah bersama kami.
header

Al Qur'an & Hadits

"Dan bagi mereka para istri terdapat hak yang sebanding dengan kewajibannya secara makruf" (QS. al-Baqarah, 2:223)

Artikel Pernikahan Adat & Busana Aceh PDF Print E-mail

Kekayaan provinsi paling ujung pulau Sumatera ini sungguh luar biasa, kekayaan sumber Alam (Gas Arun) dan  ragam budaya. Terkenal dengan sebutan Serambi Mekah ini sangatlah pantas menjadi daerah Istimewa diantara  provinsi yang lain . Dalam kesempatan ini (Ny. Cut Intan Ellyb Arby, Ny. Asjafar-mantan Ketum Tiara kesumah serta sumber-sumber yang lain) merangkum dan mempersembahkan rangkuman upacara adat pernikahan yang diantaranya adalah :

1. PERSIAPAN DAN PEMBUKAAN

A. Jak Keumalen / Cah Roet ada dua cara, yaitu :

  1. Langsung dilakukan oleh orang tua atau keluarga
  2. Theulangka dilakukan dengan menggunakan utusan khusus

Maksud jak cah roet adalah sebagai tahap awal dalam menjajaki /merintis. Biasanya beberapa orang dari pihak jejaka, datang dan bersilaturahmi sambil memperhatikan  , situasi rumah serta kebiasaan calon mempelai wanita/dara baro.  Pada kesempatan ini pihak jejaka juga membawakan bungong jaroe atau bingkisan yang berupa makanan. Setelah adanya pendekatan. Keluarga calon mempelai pria/linto baro akan menanyakan apakah putrinya sudah ada yang punya atau belum, apabila mendapatkan jawaban dan sambutan baik dari pihak dara baro, maka dilanjutkan dengan jak lake /jak ba ranub

B. Jak Lake Jok Theulangke / Jak Ba Ranub / Meminang/Lamaran

Ortu pihak linto memberi theulangke (utusan) dengan membawa sirih, kue-kue dan lain-lain. Pada theulangke, pihak linto sudah mulai mengemukakan hasratnya kepada putri yang dimaksud. Apabila pihak daro/putri menerimanya akan dijawab “Insya Allah” dan pihak keluarga serta putri yang bersangkutan akan melakukan musyawarah. Jika hasil musyawarah tersebut “tidak diterima” oleh pihak keluarga daro maka, mereka akan menjawab, dengan alasan-alasan yang baik atau dengan mengatakan “hana get lumpo”/mimpi yang kurang baik”. Sebaliknya jika “diterima” oleh pihak dara, akan dilakukan dengan “Jak ba tanda”.

C. Jak ba tanda / Bawa tanda

Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat (tanda jadi). Biasanya pihak calon linto membawa sirih lengkap dengan macam-macam bahan makanan kaleng, seperangkat pakaian yang dinamakan lapek tanda dan perhiasan dari emas sesuai kemampuan calon linto baro. Ba tanda ini ditempatkan di dalam “talam/dalong” yang dihias sedemikian rupa; sebagai “balasan/balah idang” tempat yg sudah kosong tadi diisi dengan kue-kue dari pihak calon dara baro, acara balah idang ini dilaksanakan bisa langsung atau setelah beberapa hari kemudian. Dalam kesempatan ini sekaligus dibicarakan hari, tanggal pernikahan, jeulame (mas kawin), peng angoh (uang hangus), jumlah rombongan pihak linto serta jumlah undangan.  Menurut norma adat, bila ikatan pertunangan putus di tengah jalan disebabkan oleh pihak pria, maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang. Apabila putusnya hubungan penyebabnya pihak wanita, maka pihak wanita harus mengemblikan tanda emas tersebut dua kali lipat.

 

2. PERNIKAHAN

Pernikahan ada 2 macam :

  1. Nikah gantung, yaitu pernikahan gadis yang masih kecil belum cukup umur atau masih dalam pendidikan, mereka dinikahkan terlebih dahulu dan akan diresmikan beberapa tahun kemudian. Biasanya hal ini terjadi pada gadis yang dijodohkan, sebab pada zaman dahulu, agam ngon dara (bujang dan gadis) tabu mencari jodoh sendiri. Penentuan teman hidup menjadi wewenang ortu, terutama bagi ana