Kami berikan layanan terbaik untuk setiap event anda, jadikan momen terindah bersama kami.
header

Al Qur'an & Hadits

"Mereka, para istri, adalah umpama pakaian bagimu; dan kamu pun umpama pakaian bagi mereka" (QS. al-Baqarah, 2:187).

Artikel Pernikahan Adat & Busana Aceh PDF Print E-mail

Kekayaan provinsi paling ujung pulau Sumatera ini sungguh luar biasa, kekayaan sumber Alam (Gas Arun) dan  ragam budaya. Terkenal dengan sebutan Serambi Mekah ini sangatlah pantas menjadi daerah Istimewa diantara  provinsi yang lain . Dalam kesempatan ini (Ny. Cut Intan Ellyb Arby, Ny. Asjafar-mantan Ketum Tiara kesumah serta sumber-sumber yang lain) merangkum dan mempersembahkan rangkuman upacara adat pernikahan yang diantaranya adalah :

1. PERSIAPAN DAN PEMBUKAAN

A. Jak Keumalen / Cah Roet ada dua cara, yaitu :

  1. Langsung dilakukan oleh orang tua atau keluarga
  2. Theulangka dilakukan dengan menggunakan utusan khusus

Maksud jak cah roet adalah sebagai tahap awal dalam menjajaki /merintis. Biasanya beberapa orang dari pihak jejaka, datang dan bersilaturahmi sambil memperhatikan  , situasi rumah serta kebiasaan calon mempelai wanita/dara baro.  Pada kesempatan ini pihak jejaka juga membawakan bungong jaroe atau bingkisan yang berupa makanan. Setelah adanya pendekatan. Keluarga calon mempelai pria/linto baro akan menanyakan apakah putrinya sudah ada yang punya atau belum, apabila mendapatkan jawaban dan sambutan baik dari pihak dara baro, maka dilanjutkan dengan jak lake /jak ba ranub

B. Jak Lake Jok Theulangke / Jak Ba Ranub / Meminang/Lamaran

Ortu pihak linto memberi theulangke (utusan) dengan membawa sirih, kue-kue dan lain-lain. Pada theulangke, pihak linto sudah mulai mengemukakan hasratnya kepada putri yang dimaksud. Apabila pihak daro/putri menerimanya akan dijawab “Insya Allah” dan pihak keluarga serta putri yang bersangkutan akan melakukan musyawarah. Jika hasil musyawarah tersebut “tidak diterima” oleh pihak keluarga daro maka, mereka akan menjawab, dengan alasan-alasan yang baik atau dengan mengatakan “hana get lumpo”/mimpi yang kurang baik”. Sebaliknya jika “diterima” oleh pihak dara, akan dilakukan dengan “Jak ba tanda”.

C. Jak ba tanda / Bawa tanda

Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat (tanda jadi). Biasanya pihak calon linto membawa sirih lengkap dengan macam-macam bahan makanan kaleng, seperangkat pakaian yang dinamakan lapek tanda dan perhiasan dari emas sesuai kemampuan calon linto baro. Ba tanda ini ditempatkan di dalam “talam/dalong” yang dihias sedemikian rupa; sebagai “balasan/balah idang” tempat yg sudah kosong tadi diisi dengan kue-kue dari pihak calon dara baro, acara balah idang ini dilaksanakan bisa langsung atau setelah beberapa hari kemudian. Dalam kesempatan ini sekaligus dibicarakan hari, tanggal pernikahan, jeulame (mas kawin), peng angoh (uang hangus), jumlah rombongan pihak linto serta jumlah undangan.  Menurut norma adat, bila ikatan pertunangan putus di tengah jalan disebabkan oleh pihak pria, maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang. Apabila putusnya hubungan penyebabnya pihak wanita, maka pihak wanita harus mengemblikan tanda emas tersebut dua kali lipat.

 

2. PERNIKAHAN

Pernikahan ada 2 macam :

  1. Nikah gantung, yaitu pernikahan gadis yang masih kecil belum cukup umur atau masih dalam pendidikan, mereka dinikahkan terlebih dahulu dan akan diresmikan beberapa tahun kemudian. Biasanya hal ini terjadi pada gadis yang dijodohkan, sebab pada zaman dahulu, agam ngon dara (bujang dan gadis) tabu mencari jodoh sendiri. Penentuan teman hidup menjadi wewenang ortu, terutama bagi anak gadis.
  2. Nikah langsung, yaitu pernikahan dilakukan seperti biasa, langsung diresmikan (wo linto).  Pada gadis dewasa yang tidak ada halangan,nikah langsung dilaksanakan dikantor KUA atau dirumah mempelai wanita.

Pada masa lampau  kaum bangsawan selalu membuat upacara pernikahan dirumah calon mempelai wanita (dara baro). Pernikahan (peugatip) dilakukan beberapa hari sebelum upacara wo linto/meukeurija (pesta) . Sebelum eukeurija diadakan meudeuk pakat (bermufakat) dengan orang tua adat, dan anggota keluarga serta pemuka masyarakat yang terdiri dari tuha peet (penasehat) , kechik gampong (kepala desa), ‘Imum meunasah (imam langgar). Biasanya musyawarah dipimpin oleh orang tua calon mempelai wanita (daro baro, atau yang mewakili-nya untuk membicarakan pesta yang akan diselenggarakan.

Dalam upacara perkawinan Aceh, makanan kecil atau kue-kue tidak boleh ditinggalkan adalah buluekat dengan tumpo (ketan), manok panggang (ayam panggang), buleukat dengan pisang teu peungat atho kaya (ketan dengan srikaya), dodoi (dodol), wajek, halua, meuseukat, thimpan serta kue-kue kering yang disebut reumok tho, kekarah, kembang goyang (kembang loyang bhoi/bolu) bungong kaye (bunga kayu), sedangkan lauk-pauk yang biasa dihidangkan pada pesta anatara  lain :

  1. Gule boh panah (gule nagka khas Aceh)
  2. Masak keuruema/masak puteh (masak semacam opor)
  3. Shie masak mirah (daging masak merah)
  4. Seumur Aceh
  5. Engkot tumeh (ikan tumis khas Aceh)
  6. Engkot masam keung (ikan masam asam pedas)
  7. Udeung tumeh (tumis udang khas Aceh)
  8. Shie cuka (daging masak cuka)
  9. Sambai gureng ate (sambal goreng ati)
  10. Boh itek jruek (telur bebek asin)
  11. Boh reuteuk crah (tumis kacang panjang)
  12. Dan lain-lain

 

PENGANTIN GAYO (Aceh Tengah)

Tanah Gayo berada di Aceh tengah, yaitu Takengon, yang dikenal juga dengan Aceh Lut. Bukan hanya Danau Laut Tawar-nya yang indah dan dingin bersuasana “puitis”, prosesi adat pengantinya pun unik. Busana, tata rias dan aksesoris dan sanggul nan spesifik serta khas, mencirikan budaya yang melambangkan kejayaan masyarakat Gayo.

RISIK KONO, merupakan perbincangan ortu dari kedua calon pengantin, biasanya diawali dengan senda gurau oleh ibu pihak pria kepada ibu pihak wanita, yang kemudian mengarah pada pembicaraan serius, dalam ungkapan Gayo dikatakan “sene i telege, barakah i jayah” (bercanda disumur atau pemandian) . Ucapan ibu si pria misalnya, “kune kene atemu kediken kite berume?” (bagaimana menurut anda jika kita berbesan?). Jika berkesan, biasanya ibu wanita akan menjawab,”te mukune, kedang nge petemun kene Empue. Ipak urum Uwih kedang ngesuke, kite ke mununung”. (Apa salahnya, barangkali sudah jodoh)

MUNGINTE
, artinya meminang , ini biasanya tidak dilakukan oleh orang tua pria sendiri, tetapi menunjuk orang tertentu yang disebut telangke (telangkai/delegasi) ini beranggota antara 3 s/d 5 pasang suami istri yang teridiri dari kerabat dekat hubungan kekeluargaan dengan ortu CMP. Dalam munginte ini, biasanya yang memegangperanan adalah kaum ibu. Perlengkapan yang dibawa ketika melamar, anatara lain, beras kira-kira 2 liter yang dimasukkan ke dalam tape bercucuk. Bebalun berukir yang didalamnya batil bersap (cerana tempat sirih lengkap dengan isinya), juga sejumlah uang yang besarnya tidak ditentukan.  Tapi dulu jumlahnya ditentukan kepala (mata uang Belanda), serta jarum dengan benang (jarum bertelenting). Semua itu akan ditinggalkan dirumah CMW, sampai ada ketentuan diterima atau ditolaknya pinangan tersebut. Perlengkapan itu disebut penampong ni ku yu, yang maknanya sebagai tanda pengikat tidak resmi bagi pihak wanita, agar untuk sementara waktu tidak akan menerima lamaran orang lain.

Pinangan itu tidak langsung dijawab diterima atau tidak, karena pihak CMW memerlukan waktu untuk berfikir (kendatipun mereka menerima) 2 atau 3 hari. Kiasan untuk berfikir tersebut berhamal tidur bernipi jege (dilihat dulu hasil mimpinya). Jika lamaran itu ditolak, cukup dengan mengatakan, “mimpi kami kurang bagus”. Khusus untuk mahar, yang menentukan jumlah adalah CMW, dan biasanya tidak bisa tawar-menawar sebagaimana halnya permintaan (teniron)  yang dilakukanoleh pihak keluarga CMW.  Mahar berbentuk apa saja, termasuk emas, kebun, sawah, perlengkapan sholat dsb.

Status perkawinan di Gayo zaman silam, ada 2 macam. Yakni perkawinan juelen/ango (seorang gadis akan berumah tangga dan sudah coicok semua, maka dalam pembicaraan melamar dibicarakan status juelen, yakni pihak CMW akan menerima unyuk(uang) dari pihak CMP dengan demikian berarti pengantin wanita menjadi warga pengantin pria), dan perkawinan angkap (kebalikan daru juelen, yakni dari keluarga pria akan menjadi warga pengantin wanita, anak keturunan menjadi warga pengantin wanita. Hal ini jarang terjadi di Gayo, kecuali keluarga pengantin pria kurang berada dan kalau melamar gadis tidak dapat memenuhi persyaratan.

SESUK PANTANG
,  ketentuan yang harus dipatuhi oleh kedua calon pengantin selama sebelum menikah. Keduanya tidak boleh salim bertemu. Kalau kebetulan ketemu tanpa segaja (kepergok) dijalan, mereka tidak boleh saling menyapa. Kalau dijalan ketemu si pria tidak mengenakan kopiah, maka harus menunduk dan menutupi kepalanya dengan apa saja, baik daun, telapak tangan, bahkan sapu tangan, agar kepalanya tidak kelihatan. Pria tanpa kopiah dianggap tidak sopan, dan kalau pakai kopiah, tidak boleh miring. CMW, harus menutupi kepalanya dengan tudung (selendang). Sesuk Pantang ini, jika dilanggar bisa-bisa pernikahan jadi batal.

TURUN CARAM
, artinya mengantar uang atau unyuk, dilakukan menjelang naiknya matahari. Hikmahnya adalah kesejahteraan suami istri seperti matahari. Barang-bartang yang dibawa pada saat Turun Caram , adalah bebalun berisi batil bersap tempat sirih. Tape yang berisi beras sebanyak 2-4 liter. Jarum bertelenting dengan kunyit (induk kunyit), uang telur ayam kampung.

MUNOS BENTEN, dibuat untuk keperluan ; kalau letaknya dibelakang rumah, fungsinya sebagai tempat memasak, kalau letaknya di depan atau disamping rumah, maka dipergunakan untuk ruang (tempat) duduk tamu sekaligus tempat untuk mengadakan hiburan (kesenian), seperti didong, dabus (debus), canang dan lain-lain. Untuk membuat benten ini, sudah menjadi tugas khusus anak juelen(menantu pria)

SEGENAP, dalam musyawarah ini yang dibicarakan adalah pembagian tugas sewaktu diadakan pesta perkawinan nanti, Misalnya, ditentukan siapa nantinya yang akan berasil (perlengkapan), siapa yang  menjalankan mangol (undangan), mencari kayu bakar dan sebagainya.

BEGENAP, baik segenap maupun begenap waktunya adalah pada malam hari. Pada malam begenap, umumnya famili tidak pulang ke rumah masing-masing. Karena malam itu suasananya sudah seperti benar-benar pesta(pengerjen). Semua dalam kaadaan sibuk dengan tugasnya masing-masing, sehingga tidak memungkinkan untuk pulang kerumah, apalagi rumahnya jauh. Kesibukan malam begenap terbagi dua kelompok, yakni kelompok orang-orang tua yang membahas keperluan yang akan diberikan kepada imam, sedangkan kelompok kedua adalah muda-mudi membuat onde-onde.

MUNIRI, CMW dimandikan oleh teman-teman sepermainan bersama-sama, selain membersihkan  rambut yang disebut bepangir (keramas) . Alat pencuci rambut antara lain, lemantu(sejenis jeruk yang tidak bisa dimakan, bentuknya seperti jeruk Bali yang masih kecil, khusus untuk pangir) Juga ada asam pepok sejenis jeruk yang tidak bisa dimakan). Asam jantar (sejenis asam untuk asam sayuran), jempung (jerami padi), lutus (lerak) serta lelulit (sejenis tumbuhan pakis yang tymbuh di tepi sungai)

BEGURU (belajar) pelaksanaannya sesudah begenap pada pagi hari, yakni setelah sholat subuh. Maksudnya diberi nasehat dan petunjuk, yang intinya berkenaan dengan kehidupan berumahtangga dan pergaulan suami istri. Kalau pada calon mempelai wanita, acara berguru ini selalu diiringi dengan bersebuku (meratap). Perlengakapan beguru dirumah  masing-masing calon adalah sama, yakni upuh ulen-ulen, seperangkat baju yang ditempatkan didalam baki, serta peralatan tepung tawar anatara lain, batang teguh  (sejenis tumbuhan yang melambangkan keteguhan, keberuntungan), dedingin (penyejuk bersufat dingin) dan cecala yang bermakna kebahagiaan. Juga anak ni awal pisang abu, yang bermakna rezeki tidak putus-putus, angkal ilang dan sesampe ditambah urip-urip dan ulung kayu kul

TONGKOH, dimaksudakan sebagai waktu anatara begenap dangan jege uce(berjaga kecil), karena yang hadir hanya  kerabat paling dekat saja. Kegiatan pada malam jege uce diadakan guru didong, tari guel dan didong semalam suntuk. Group yang bermain didong dibawa oleh juelen. CMW pada malam itu diberi kacar(inai) pada kuku tangan, telapak tangan 5 tumpuk, kuku kaki dan tumitnya. Yang memberi kacar adalah pihak ralik (keluarga dari CMW). Cara membuat kacar , daun digiling halus, lalu diberi sedikit air dan ditempel dikuku. Setelah kering akan dilepas dengan sendirinya.

JEGE KUL, disebut juga berjaga besar. Sebab orang-orang yang hadir lebih banyak daripada jege uce, tidak terbatan pada famili terdekat. Acaranya lebih meriah didong dipertunjukkan dengan 2 kelop(dipertandingkan)., canang, tari dabus, guru didong dan lain-lain. Didong adalah kesenian yang berisi pantun, nasehat, sindiran dan sebagainya, yang terdiri dari 2 kelompok, masing-masing 20-25 orang, biasanya dilakukan semalam suntuk.

BELUTUT, Yakni mandi bersama, masing-masing calon di kediamannya masing-masing, diantar teman-temannya ketempat pemandian.

BEKUNE, adalah mengerik dalam bahasa jawa, dilakukan malam hari, yang mengerikCMW adalah perias atau famili dekat dari pihak CMW. Alat mengeriknya pisau lipat, yang dikerik anatara lain dahi, pipi dan kuduk atau tengkuk. Bekas kerikan ditampun dalam sebuah kobokan yang berisi air bersih dengan irisan jeruk purut, yang nantinya akan ditanam dirumpun pisang, agar rambut lebat dan subur.

MUNALO, adalah menyongsong rombongan pengantin pria ke suatu tempat (misal tanah lapang)  yang telah disepakati bersama oelh kedua belah pihak. Yang munalo itu adalah Telangke dari pihak mempelai wanita. Sementara itu dirumah CMW, telah diadakan persiapan-persiapan. Antara lain CMW telah didandani dan duduk menanti di kamar pengantin.  Alat penepung tawar, ampang untuk CMP, ampang untuk apit, beberu kucak (gadis cilik), aman mayak kucak , seperangkat canang untuk bunyi-bunyian, bebalun tempat sirih, 2 orang yang akan bermelangkan(pidato adat) dan seorang gadis cilik dari pihak CMW.

MAH BEI
, mengarak CMP kerumah CMW. Selesai munalo, rombongan baru kembali kerumah, rombangan bei juga meninggalkan belang, dan berangkat menuju  suatu rumah sebelum menuju rumah CMW yaitu rumah persinggahan (umah selangan). Dirumah selangan ini bei menanti datanganya kiriman dari pihak beru . Setelaha kiriman datang dan diteliti reje pihak bei, tidak ada yang kurang maupun cacat(seperti sulaman ampang tak ada yang cacat), rombongan bei menuju pihak beru. Lamanya umah selangan 30-60 menit.

LUAH PANTANG, dimaksudkan apa yang harus dipatuhi dalam sesuk pantang sudah tidak berlaku-lagi

MUJULE GULE (mengantar ikan), adalah ketentuan yang harus dilaksanakan aman mayak pada hari ketiga, yakni mengantar ikan kerumah mertua. Tidak ditentukan jenis ikan yang dibawa. Ikan yang dibawa ditunjukkan kepada ralik, dan selebihnya untuk dimakan bersama.

MUJULE WIH (mengantar air), dilakukan oleh inen mayak, yakni mengantar air kerumah mertua, waktunya  adalah 3 hari setelah suami menginap, sama dengan yang dilakukan aman mayak, yakni mujule gule.. Air ditempatkan dalam buyung (kendi besar)

MAH KERO, yakni membawa nasi dengan lauknya, yang melaksakan adalah pihak aman mayak, membawa nasi kerumah keluarga inen mayak. Maksudnya, kapan inen mayak diantar kerumah aman mayak.

MUNENES/MUNIK BERU, lazimnya dilaksanakan malam hari, merupakan acara perpisahan anatara inen mayak dengan ibu/bapak serta segenap kerabat. Maksudnya perpisahan dalam segala hal, baik perpisahan setelah perawatan orang tua, maupun perpisahan dengan tempat tinggal yang selama ini membesarkannya.

MANGAN KEROH KERIH, adalah acara makan pagi bersama, sebagai kewajiban inen mayak untuk menghidangkan makanan kesegenap tamu yang hadir. Mangan kero opat ingi ini berlangsung dirumah keluarga inen mayak , yakni setelah 7 hari inen mayak berada dirumah suaminya. Ortu dari aman mayak membawa nasi lengkapa dengan lauk pauk kerumah besannya. Tujuan acara ini adalah untuk saling mengenal lebih mendalam anatara besan dan untuk lebih mengeratkan hubungan kekeluargaan. Sewaktu akan pulang nantinya, ibu inen mayak akan memberikan tikar untuk besannya.


PENGANTIN MEULABOH (Aceh Barat)

MEULABOH terletak di pesisir barat Aceh, dengan masuknya pengaruh kebudayaan Eropa, China dan Hindia akan menampakkan dominasi budaya luar tersebut, termasuk prosesi acara perkawinannya.

MERISIK, sebelum lamaran, pihak CMW (Linto Baro) mengirim utusan seorang utusan (teulangke) biasanya tante CMP, untuk memantau sikon tentang CMW (Dara Baro) apakah sang gadis sudah ada yang melamar atau belum. Bila informasi serta lamaran diterima , maka ditentukan hari untuk Jak Ba Ranub(membawa sirih) dan memberi Jak Ba Tanda berupa perhiasan emas sebagai tanda pengikat. Dalam kesempatan itu juga dibicarakan tentang jadwal prosesi pernikahan. Jika dalam kesepakatan tersebut pihak CMW membatalkan ikatan tersebut maka pihak CMW berkawajiban membayar 3 kali lipat (kalau adat Gayo hanya 2 kali lipat) dan jika pihak CMP yang membatlkan maka tanda pengikat tersebut dianggap gangus.

BO’H GACA (Pemberian inai = Midodareni/adat jawa), 7 hari sebelum hari “H”, dirumah CMW diadakan acara peu ek sampangan, yaitu mendekor langit-langit rumah dengan kain yang ditata rapi lalu diletakkan bulan bintang dari sulaman benang emas. Dibawah sampangan kemudian dibuat pelaminan untuk bersanding dan diletakkan kasur meusujo(tempat duduk untuk CMW saat acara BO’H GACA, dalam kesempatan ini CMW diukir telapak tangan dan tumit kakinya dengan inai, setelah itu dia boleh berhandai-handai dengan keluarga dan teman-temannya sampai larut malam, malam ber’inai ini bisa berlangsung sampai tengah malam.

SEUMANO DARA BARO
(Siraman), sebelum siraman dimulai, terlebih dahulu dilakukan acara peusijuek (upacara tepung tawar)  CMW dipangku oleh keluarga terdekatnya. Air siraman diletakkan dalam 7 buah bokor yang telah dibungkus dengan kain warna-warni, salah satunya diletakkan bo’h jeruju(sebentuk burung terbuat dari janur). CMW harus melepaskan bo’h jeruju dengan menyemburkan air sampai ikatannya lepas, setelah itu barulah secara bergantian pihak keluarga terdekat memberikan siraman kepada CMW, umumnya dengan diiringi dengan tarian Pho dan Ratou’h Pho yang mengisahkan riwayat calon pengantin dan pemberian nasehat kepada mempelai, situasi acara ini penuh haru dan menyentuh hati.

KRUET ANDAM (Kerik), upacara ini dilakukan oleh orang yang dituakan atau perias pengantin. Perangkat yang disediakan anatara lain : daun sirih, telur ayam utuh dan pisau cukur, daun sirih untuk mengobati luka bekas cukuran dan telur berguna untuk menghaluskan wajah CMW agar tampak lebih cantik.

MEUGATIEP (Pernikahan) CMP dan sanak saudara dengan diiringi pembacaan shalawat membawa seserahan(peunuo) kerumah CMW. Sesampai disana mereka disambut dengan geulumbong (silat) lalu dilakukan tukar menukar sirih. Kemudian pengantin pria dipersilahkan masuk melalui kain yang telah dibentangkan  untuk dipertemukan dengan CMW, setelah itu dilakukan acara injak telor dan membasuh kaki pengantin pria lalu pengantin wanita menyalami pengantin pria kemudian keduanya bersanding di pelaminan, selesai acara kedua pengantin diawasi oleh seorang peuganjou (orang yang dituakan) yang akan melayani mereka makan untuk beberapa hari, peuganjou akan memantau apakah mereka telah melewati malam pertama atau belum. Jika sudah, pengantin pria memberikan hak suet baje kepada istrinya berupa perhiasan.

TEUNGA DARA BARO
(Ngunduh Mantu), diadakan oleh keluarga pria setelah hari pernikahan. Bila keluarga wanita berasal dari keluarga terpandang/mampu dia akan ditandu di atas kursi yang telah dihias, setelah acara selesai, pengantin wanita akan diberi peunulang (hadiah), biasanya berupa sapi atau kerbau atau emas yang senilai dengan kedua hewan tersebut.




 

Comments (1)
 

Find Us on Facebook



Follow Us on Twitter

Follow RiasAam on Twitter